Cendekiawan Islam: Ibn Rushd – Ahli Falsafah & Ilmu Fiqh

Ibn Rushd

Nama sebenar Averrose ialah Abu Walid Muhammad bin Rusyd> Beliau lebih dikenali dengan Ibnu Rusyd yang lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan datuk Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masa itu.

Ibnu Rusyd sejak kecil adalah merupakan seorang anak yang mempunyai minat yang mendalam terhadap ilmu dan mempunyai bakat tinggi. Dia mendalami pelbagai bidang ilmu, seperti kedoktoran, hukum hakam, matematik dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami bidang filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang genius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebahagian besarnya diberikan untuk mengabdikan diri sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan.

Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenali sebagai Averroes dan komentator yang terbesar dalam bidang filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir seperti St. Thomas Aquinas. Ramai yang berjumpa Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedoktoran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedoktoran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Terdapat 2 Filsafat Ibnu Rusyd iaitu:
i. Filsafat Ibnu Rusyd seperti yang difahami oleh orang Eropah pada abad pertengahan; dan
ii. Filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya Ibnu Rusyd:
Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
Kulliyaat fi At-Tib (buku kedoktoran)
Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]
Advertisements

Cendekiawan Islam: Al-Jazari – Ahli Mekanik & Robotik

Al-Jazari

Abū al-‘Iz Ibn Ismā’īl ibn al-Razāz al-Jazarī (11361206) (bahasa Arab: أَبُو اَلْعِزِ بْنُ إسْماعِيلِ بْنُ الرِّزاز الجزري‎) adalah orang Arab penting dalam ilmu robotik Islam. Al-Jazari dilahirkan di Al-Jazira, Mesopotamia semasa Zaman Kegemilangan Islam. Dia adalah penulis Kitáb fí ma’rifat al-hiyal al-handasiyya (Buku Pengetahuan Ilmu Mekanik) pada tahun 1206, di mana dia menerangkan 50 alat mekanik di samping dengan arahan bagaimana membinanya.

Peradaban Islam di era keemasan telah menguasai teknologi yang sangat tinggi. Pada abad ke-13 M, dunia Islam sudah menggenggam teknologi robot. Insinyur Muslim di zaman kekhalifahan sudah mampu menciptakan robot mirip manusia. Pencapaian itu sekaligus mematahkahkan klaim Barat yang kerap menyebut Leonardo da Vinci sebagai perintis teknologi robot.

Da Vinci baru merancang pembuatan robot pada 1478, itu pun baru berbentuk desain di atas kertas. Sedangkan, insinyur Muslim yang sangat brilian, Al-Jazari, sudah berhasil merancang dan menciptakan aneka bentuk robot pada awal abad ke-13 M. Atas dasar itulah, masyarakat sains modern menjulukinya sebagai ”Bapak Robot”. Peradaban Islam lebih maju tiga abad dalam teknologi robot dibanding Barat.

Peradaban Islam adalah perintis dalam bidang teknologi automata, yakni sebuah mesin yang dapat berjalan sendiri (self operating). Automata sering digunakan untuk menggambarkan sebuah robot atau lebih khusus robot autonomous. Kata Automata berasal dari bahasa Yunani automatos, yakni berlaku atas kehendak sendiri, bergerak sendiri.

Kata itu digunakan untuk menggambarkan mesin-mesin bergerak tak-elektronik, khususnya yang dirancang untuk menyerupai gerakan manusia atau hewan. Mesin robot yang diciptakan Al-Jazari berbentuk sebuah perahu yang terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik.

Robot yang terdiri atas dua penabuh drum, seorang peniup harpa, dan pemain suling logam itu diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam acara jamuan minum. Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang di kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. ”Itu adalah automata pertama yang bisa diprogram,” ungkap Prof Noel Sharkey.

Robot penabuh drum yang dirakit Al-Jazari dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Robot yang ditemukan Al-Jazari itu juga mengundang kekaguman Charles B Fowler. Menurut dia, temuan insinyur Muslim itu bisa disebut ‘‘robot band”. Sebuah pencapaian penting yang belum pernah ditemukan peradaban lain sebelumnya dan kebudayaan lain di zaman itu.

Secara khusus Mark E Rosheim menyimpulkan, kemajuan yang dicapai dunia Islam di era kejayaan dalam bidang robotika sebagai sebuah penemuan lebih maju dibandingkan zaman Yunani. ”Tak seperti desain Yunani, contoh robot yang diciptakan dunia Islam (Arab) mampu mengundang daya tarik. Tak hanya dalam ilusi dramatis, tetapi mampu menghadirkan lingkungan yang bisa membuat manusia lebih nyaman,” ungkap Rosheim.

Menurut Rosheim, robot ciptaan Al-Jazari itu merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam yang sangat penting bagi teknologi. Menurut dia, robot yang diciptakan peradaban Islam di awal abad ke-13 M sudah berbentuk manusia robot dan mampu membantu manusia untuk tujuan praktis. Sayangnya, kata dia,  robot itu tak diciptakan untuk kepentingan industri.

Selain ”robot band”, Al-Jazari juga berhasil menciptakan sebuah robot pramusaji berbentuk manusia yang bertugas untuk menghidangkan air, teh, atau minuman lainnya. Minuman disimpan dalam sebuah tank dengan reservoir (penampung air). Dari penampung itu, air dialirkan ke dalam sebuah ember dan setelah tujuh menit mengalir ke sebuah cangkir. Setelah itu, robot itu mengeluarkan minumannya.

Penemuan penting lainnya di era kejayaan Islam yang tak kalah menarik adalah pencuci tangan otomatis dengan mekanisme pengurasan. Mekanisme yang dikembangkan Al-Jazari itu, kini digunakan dalam sistem kerja toilet modern. Robot pencuci tangan otomatis itu berbentuk seorang wanita yang berdiri dengan sebuah baskom berisi air.

Ketika seorang pengguna menahan tuas, air akan mengering dan robot wanita itu akan kembali mengisi baskom dengan air. Robot lainnya yang dikembangkan Al-Jazari adalah air mancur burung merak. Robot ini berfungsi sebagai pengganti pembantu atau pelayan. Robot ini memudahkan orang saat membersihkan tangan, karena robot burung merak itu akan menawarkan sabut dan handuk secara otomatis.

Robot lainnya yang diciptakan insinyur Muslim adalah burung merak otomatis yang bisa bergerak. Al-Jazari menggerakkan robot burung merak itu dengan tenaga air. Teknologi robot lainnya yang ditemukan Al-Jazari adalah pintu otomatis sebagai bagian dari salah satu jam air yang diciptakannya.

Teknologi automata yang dikembangkan Al-Jazari mencapai 50 jenis dan semuanya ditulis dan digambarkan dalam kitabnya yang sangat legendaris, Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Karyanya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Dalam kitab itu, Al-Jazari membeberkan secara detail beragam hal terkait mekanika.

Selain itu, Al-Jazari juga menciptakan teknologi automata lainnya yang berfungsi untuk membantu dan memudahkan tugas manusia. Ia antara lain menciptakan peralatan rumah tangga dan musik automata yang digerakkan tenaga air.

Semua robot yang ditemukan peradaban Islam lewat Al-Jazari sungguh sangat mencengangkan. ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin,” ungkap sejarawan Inggris, Donald R Hill, dalam tulisannya berjudul, Studies in Medieval Islamic Technology.

Sejarawan lainnya yang terpesona dengan risalah penemuan Al-Jazari adalah Lynn White. ”Jelas sudah bahwa penemu roda gigi pertama adalah Al-Jazari. Barat baru menemukannya pada 1364 M.” Menurut Lynn, kata gear (roda gigi) baru menjadi perbendaharaan kata atau istilah dalam desain mesin Eropa pada abad ke-16 M.

Dalam pandangan Donald Hill, tak ada satu pun dokumen yang mampu menandingi karya Al-Jazari sampai abad modern ini. Menurut dia, risalah penemuan Al-Jazari begitu kaya akan instruksi mengenai desain, pembuatan, dan perakitan mesin-mesin.

”Al-Jazari tak hanya mampu memadukan teknik-teknik para pendahulunya dari Arab dan non-Arab, tapi juga dia benar-benar seorang insinyur yang kreatif,’‘ papar Donald Hill yang begitu mengagumi Al-Jazari. Ketertarikannya atas karya sang insinyur Muslim itu, Donal Hill pun terpacu dan terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Ibn Khaldun – Ahli Sejarah Kebudayaan & Sosiologi Moden

Ibn Khaldun

Nama penuhnya adalah Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abi Bakr Muhammad ibn al-Hasan Ibn Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunisia dan meninggal 17 Mac 1406 di Kaherah, Mesir.

Keluarga Ibn Khaldun merupakan orang berada yang memberikan pendidikan terbaik kepadanya. Ibn Khaldun merupakan salah seorang pakar sejarah Arab teragung, juga dikenali sebagai bapa kepada sejarah kebudayaan dan sains sosial moden. Ibn Khaldun turut mengembangkan falsafah tidak berasaskan keagamaan paling awal, terkandung dalam karyanya Muqaddimah (“Pengenalan”). Ibn Khaldun juga menulis sejarah Muslim di Afrika Utara yang terulung.

Ibn Khaldun menjawat beberapa jawatan di bawah pemerintah Tinisia dan Morocco dan pada tahun 1363 bertindak sebagai duta raja Moor di Granada, kepada Pedro Kejam Castile “the Cruel of Castile”.

Ibn Khaldun belayar ke Alexandria pada Oktober 1382, dimana beliau menghabiskan riwayatnya sebagai guru dan pensyarah di Al-Azhar dan universiti lain. Ibn Khaldun juga pernah dilantik sebagai Hakim Diraja oleh Sultan Abul Abbas, Cairo dan mengerjakan haji pada 1387.
Ibn Khaldun menyertai orang-orang Mesir dalam kempen mereka memerangi Tamerlane, pemerintah Mongol, dan bertanggung jawab mengatur penyerahan diri bandar Damsyik semasa ketiadaan Sultan Faraj.

Karya teragungnya bermula sebagai penulisan mengenai sejarah orang-orang Arab dan Barber, tetapi mengandungi pendekatan saintifik mengenai pemahaman sejarah, politik, dan ekonomi. Ibn Khaldun juga mempercayai bahawa perkara yang di kurniakan Allah boleh dibuktikan secara empirikal.

Ibn Khaldun juga memajukan konsep ekonomi, perdagangan dan kebebasan. Ibn Khaldun membangunkan idea bahawa tugas kerajaan hanya terhad kepada mempertahankan rakyatnya dari keganasan, melindungi harta persendirian, menghalang penipuan dalam perdagangan, mencetak dan menguruskan penghasilan wang, dan melaksanakan kepimpinan politik bijaksana dengan perpaduan sosial dan kuasa tanpa paksaan.

Dalam segi ekonomi, Ibn Khaldun memajukan teori nilai dan hubungkaitnya dengan tenaga buruh, memperkenalkan pembahagian tenaga kerja, menyokong pasaran terbuka, menyedari kesan dinamik permintaan dan bekalan keatas harga dan keuntungan, menolak cukai yang tinggi, menyokong perdagangan bebas dengan orang asing, dan percaya kepada kebebasan memilih bagi membenarkan rakyat bekerja keras untuk diri mereka sendiri.

Tambahan lagi, Ibn Khaldun terkenal kerana hasil kerjanya dalam sosiologi, astronomi, numerologi, kimia, dan sejarah. Secara berseorangan, Ibn Khaldun telah meletakkan titik mula bagi tradisi intelelek pemikiran bebas Islam dan Arab, kerajaan bertanggung jawab, pasaran efficent, penyiasatan sains empirikal, pengkajian sosialogi, dan penyelidikan sejarah.
“Sesiapa jua yang mengambil harta orang lain, atau menggunakannya untuk kerja paksa, atau membuat tuduhan yang tidak wajar hendaklah ingat bahawa ini adalah apa yang Pemberi Hukum maksudkan apabila melarang ketidakadilan.”

Ibn Khaldun paling masyhur dengan buku beliau Muqaddimah (Pendahuluan). Ia adalah masterpiece dalam kesusasteraan mengenai falsafah sejarah dan sosiologi. Tema utama dalam karya besar ini adalah untuk mengenali fakta-fakta psikologi, ekonomi, persekitaran dan sosial yang menyumbang kepada kemajuan tamadun manusia dan peristiwa-peristiwa semasa dalam sejarah.

Beliau menganalisis daya gerak hubungan perkauman dan menunjukkan bagaimana rasa perkauman (syu’b al-‘asabiyyah) dapat menghasilkan kenaikan tamadun dan kuasa politik baru. Beliau mengenal pasti ulangan hampir berirama bagi kebangkitan dan kejatuhan dalam tamadun manusia, dan menganalisis faktor-faktor yang menyumbang kepadanya.Pandangan-pandangan revolusi Ibn Khaldun telah menarik perhatian sarjana-sarjana Muslim dan juga ramai pemikir Barat.

Dalam kajian sejarah beliau, Ibn Khaldun adalah peneroka dalam mensubjekkan laporan-laporan sejarah kepada dua kategori asas iaitu akal, dan undang-undang sosial dan fizikal. Beliau mengetengahkan empat perkara penting dalam kajian dan analisis laporan sejarah seperti berikut:

(1) mengaitkan peristiwa-peristiwa antara satu sama lain melalui sebab dan akibat

(2) membuat analogi antara masa lalu dan masa sekarang

(3) mengambil kira kesan persekitaran

(4) mengambil kira kesan keadaan yang diwarisi dan ekonomi

Ibn Khaldun menerokai kajian kritis terhadap sejarah. Beliau menyediakan kajian analisis mengenai tamadun manusia, permulaannya, faktor-faktor yang menyumbang kepada kemajuannya dan sebab-sebab kejatuhannya. Oleh itu, beliau telah mengasaskan satu sains baru: sains kemajuan sosial atau sosiologi.

Ibn Khaldun menulis: “Saya telah menulis sebuah buku mengenai sejarah yang dalamnya saya bincangkan sebab-sebab dan akibat-akibat kemajuan negara-negara dan tamadun-tamadun, dan saya mengikuti satu kaedah yang tidak lazim dalam menyusun material buku tersebut, dan saya mengikuti satu kaedah baru dan inovatif dalam menulisnya.”

Dengan memilih kaedah analisis tertentu beliau itu, beliau telah mencipta dua sains baru: historiologi dan sosiologi serentak.Ibn Khaldun berhujah bahawa sejarah tertakluk kepada undang-undang semesta dan menyatakan kriteria bagi fakta sejarah:

“Peraturan bagi membezakan apa yang benar dan apa yang palsu dalam sejarah adalah berdasarkan kebolehjadian atau ketidak bolehjadiannya: iaitu saya katakan, kita mesti memeriksa masyarakat manusia dan membezakan antara sifat-sifat yang penting dan semulajadi dalam tabiinya dan apa yang secara kebetulan dan tidak perlu dilaporkan, mengenal pasti dengan lebih lanjut apa yang tidak mungkin dimilikinya. Jika kita melakukan ini, kita mempunyai satu peraturan untuk memisahkan fakta sejarah dari kesilapan dengan menggunakan kaedah-kaedah demonstratif yang tiada keraguan. Ia adalah kayu ukur sejati yang dengannya para sejarawan dapat mengesahkan apa sahaja yang mereka riwayatkan.”

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Jabir – Pakar Kimia

JABIR IBNU HAYYAN ( 750 – 803 m )

Jabir Ibnu Hayyan adalah seorang tabib Arab yang terkemuka di dunia. Beliau hidup pada awal pemerintahan Abbasiyah ( akhir abad kelapan dan awal abad kesembilan ). Beliau adalah salah seorang pakar kimia yang berasal dari Kufah ( Iraq) Nama penuh beliau ialah Abu Musa Al Asadi Al Tusi dikenali juga dengan gelaran Al Harani dan merupakan seorang ahli falsafah dan kimia tua. Beliau hidup di zaman Khalifah Harun Al Rasyid sebagai teman dan anak murid kepada Imam Syiah ke enam, Imam Ja’afar Al Siddiq. Beliau kemudian menetap di Baghdad dan meninggal dunia pada abad ke lapan Masihi. Diriwayatkan juga beliau merupakan anak murid kepada Khalid bin Yazid b. Muawiyah. Beliau kurang dikenali dan kurang bergaul dan sifatnya ini membolehkannya menumpukan perhatian terhadap kajiannya.

Di kalangan orang Barat, beliau lebih dikenali sebagai Gaber bin Hayyan. Ada pendapat mengatakan beliau dinamakan Gaber (penampung) kerana memperbaiki ilmu kimia iaitu memindahkan ilmu kimia tua kepada bentuk ilmu kimia moden. Beliau digelar mahaguru kimia Arab dan Gaidaki berpendapat bahawa Gaber telah berjaya membongkar rahsia yang membolehkan sisa-sisa galian ditukar kepada bentuk emas. Beliau juga telah mengembangkan falsafah Greek tua yang bergantung kepada empat unsur kepada cuma dua unsur iaitu gas dan cecair yang berasal dari sulfur dan raksa.

Sumbangan Tokoh

Jabir telah berjaya menghasilkan lebih kurang 190 karya yang mengandungi dua senarai. Senarai pertama mengandungi sebanyak 112 buah, manakala senarai kedua pula sebanyak 70 karya yang merangkumi perbahasannya dari sudut falsafah, kimia, kedoktoran, dan alam semulajadi. Di antara karya beliau yang terkenal ialah Al-Malik Al-Rahmat, Al-Tajmi, Al-Asrar, kitab Al-Sab’in, kitab Al-mizan, kitab Al-Kimia. Kitab Al-Kimia dan Al-Sab’in telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin.

Pada tahun 1444, ‘ Robert Chester ‘ adalah orang Inggeris pertama telah menerbit dan menterjemahkan kitab Al-Kimia ke dalam bahasa Inggeris, yang berjudul ” The Book of The Composition of Alchemy “. Buku kedua kitab Al-Sab’in, juga telah diterjemahkan oleh ‘Gerard Cremona‘. ‘Berthlot‘  juga salah seorang penterjemah hasil karya Jabir di antaranya berjudul “Book of Kingdom“, “Book of The Balances“, “Book of Eastern Mercury“. Kemudian pada tahun 1678, telah muncul pula ‘ Richard Russel ‘ menterjemah karya Jabir yang berjudul ” Sum of Prefection “. Richard Russel amat berbeza daripada penterjemah-penterjemah yang lain kerana beliau adalah orang pertama yang telah menggelar dan memanggil Jabir dengan gelaran ” Al- Geber “. Bukan setakat itu sahaja, malah beliau turut memuji Jabir sebagai seorang tabib Arab dan ahli falsafah yang terkenal. Oleh itu buku terjemahan beliau menjadi terkenal, laris dan popular di kalangan orang Eropah selama beberapa abad lamanya.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Al Haitham – Ahli Optik

Abu Ali Hasan Al Haitham

Abu Ali Hasan Al Haitham yang juga dikenali sebagai Alhazen di barat, merupakan Bapa Optik Moden. Beliau merupakan pakar fizik yang terunggul melalui sumbangan terhadap kaedah optik dan saintifik. Abu Ali Hasan dilahirkan pada 965 Masihi di Basrah dan mendapat pendidikan di Basrah dan Baghdad. Abu Ali Hasan juga merupakan manusia pertama yang memperincikan secara tepat pelbagai bahagian mata dan memberi penjelasan saintifik mengenai proses penglihatan. Abu Ali Hasan menyangkal teori penglihatan Ptolemy dan Euclid yang menyebut bahawa mata menghantar sinaran visual kepada objek yang dilihat. Menurut Ali Abu Hasan, sinaran berasal dalam objek yang dilihat dan dan bukan dalam mata. Dalam bukunya Mizan al-Hikmah, Ali Abu Hasan membincangkan ketumpatan atmosfera dan menghasilkan hubungan antara atmosfera dan ketinggian.

Terperincinya beliau adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains , falak , matematik , geometri , perubatan , dan filsafat . Beliau banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya , dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger , Bacon , dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop .

Perjalanan hidup

Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354H bersamaan dengan 965 Masehi. Beliau memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad.

Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan. Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematik dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan wang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universiti Al-Azhar. Hasil daripada usaha itu, beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, perubatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan moden mengenai mata.

Karya dan penelitian Sains

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui pelbagai data penting mengenai cahaya. Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahaskan mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang bayang dan gerhana.

Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 darjah di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 darjah ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah berjaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya. Ibnu Haitham juga turut melakukan percubaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ terhasillah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kanta pembesar yang pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemui prinsip isi padu udara sebelum seorang saintis yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian.

Ibnu Haitham juga telah menemui kewujudan tarikan graviti sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada saintis barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan filem yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita tontoni pada masa kini.

Filsafat

Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik, metafizik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara berpunca daripada pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya. Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragui dalam menilai semua pandangan yang sedia ada.

Jadi, pandangannya mengenai falsafah amat menarik untuk disoroti. Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematik, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fizikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Karya

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya apabila beliau begitu ghairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini beliau berjaya menghasilkan banyak buku dan makalah. Antara buku karyanya termasuk:
1. Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik penganalisaannya;
2. Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri;
3. Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
5. M.aqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak dan
6. Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sehingga ke hari ini.Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi telah “dicuri” dan “diceduk” oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam kerana tanpa mereka kemungkinan dunia Eropah masih diselubungi dengan kegelapan.

Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran falsafah Yunani .

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Ibn Battuta – Ahli Pengembaraan

Ibn Battuta

Abu Abdullah Muhammad Ibn Battuta (Bahasa Arab: أبو عبد الله محمد ابن بطوطة) (dilahirkan Februari 24, 1304, meninggal 1369 M) merupakan seorang Berber dari golongan Muslim Sunni. Beliau merupakan cendiakawan dan ulama Mazhab Maliki, dan pernah berkhidmat sebagai Qadi, yakni hakim. Walaubagaimana pun beliau tersohor sebagai penjelajah dan pengembara dan menulis mengenai pengembaraanya selama hampir tiga puluh tahun merangkumi lebih kurang 73,000 batu (117,000 km). Penjelajahannya meliputi daerah yang sekarang merupakan Barat Afrika hingga ke Pakistan, India, Maldives, Sri Lanka, Asia Tenggara dan Cina, jarak yang jauh lebih hebat dari Marco Polo yang hidup hampir sezaman dengan beliau.

Perjalanan hidupnya

Abu Abdullah Muhammad Ibn Battuta, juga dikenali sebagai iklan Shams – Din, lahir di Tangier, Maghribi, pada 24 Februari 1304 (703 Hijrah). Dia meninggalkan Tangier pada Selasa, Jun 14, 1325 (2nd Rejab 725 H.), ketika ia berusia dua puluh satu tahun. Perjalanannya berlangsung selama sekitar tiga puluh tahun, selepas itu ia kembali ke Fez, Maghribi di istana Sultan Abu Inan dan dicatat perjalanannya oleh Ibn Juzay. Ini dikenali sebagai yang terkenal Perjalanan (Rihala) Ibn Battuta. Dia meninggal di Fez pada 1369 Masihi.

Ibn Battuta adalah satu-satunya abad pertengahan pelancong yang diketahui telah mengunjungi negeri setiap Muslim penguasa pada zamannya. Dia juga berkelana di Ceylon (sekarang Sri Lanka), China dan Byzantine dan Rusia Selatan. Tingkat sekadar perjalanannya dianggarkan tidak kurang dari 73, 000 batu, satu angka yang tidak mungkin telah melampaui sebelum usia awal dewasa.

Catatan Pengembaraannya

Didalam kitabnya, Tuhfat al-Nazhar beliau menyebut selama mengelilingi dunia hanya ada tujuh raja yang memiliki kelebihan luar biasa, iaitu Raja Iraq yang berbudi bahasa, Raja Hindustani sangat peramah, Raja Yaman berakhlak mulia, Raja Turki gagah perkasa, Raja Rom sangat pemaaf, Raja Turkistan bersifat tolak ansur dan Raja Melayu Malik Al-Zahir (Sumatra) yang berilmu pengetahuan luas dan mendalam.

Pengembaraannya bermula ketika usianya 21 tahun. Beliau meninggalkan Tanjah pada 14 Jun 1325. Pengembaraan beliau mengambil masa 38 tahun meliputi perjalanan sejauh 120,000 kilometer dan singgah di 44 negara. Beliau kembali semula ke Morocco semasa pemerintahan Sultan Abu ‘Inan dan kisah pengembaraan beliau ditulis oleh Ibn Juzay.Kisah pengembaraan pertama bermula dari Tangier, Afrika Utara pada 13 Jun 1325 menuju Iskandariah sebelum ke Dimyath dan Kaherah.

Selanjutnya Ibnu Battuta merentasi bumi Palastin menuju Damsyik dan ke Ladzikiyah, seterusnya ke Aleppo. Dalam perjalanan berkenaan, Ibnu Battuta terlihat satu kafilah sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan ibadat haji lalu beliau bergabung dengan rombongan itu. Beliau menetap di Makkah selama 2 tahun. Ibnu Battuta meneruskan pengembaraannya ke Yaman melalui jalan laut dan melawat Aden, Mombosa, Timur Afrika dan Kulwa. Beliau kembali ke Oman dan balik semula ke Mekkah untuk menunaikan Haji pada tahun 1332 masihi, melaui Hormuz, Siraf, Bahrin dan Yamama.

Pada pusingan kedua, Ibnu Battuta ke Syam dan Laut Hitam, ke Bulgaria, Rom, Rusia, Turki serta pelabuhan Odesia dan menyusuri Sungai Danube. Kemudian belayar ke Semenanjung Crimea di mana beliau mengunjungi Rusia Selatan dan seterusnya ke India. Di India beliau menjadi kadi dan berkhidmat dengan keluarga seorang sultan.

Beliau mengembara hingga ke Sri Lanka, Indonesia dan Canton, Sumatera, Indonesia dan melalui laut Amman sebelum meneruskan perjalanan darat ke Iran, Iraq, Palestin dan Mesir. Beliau kembali ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji yang ke tujuh (terakhir) pada November 1348.

Perjalanan ketiga bermula pada 753 Hijrah dimana beliau sampai ke Mali di tengah Afrika Barat sebelum ke Maghribi. Setiap kali mengunjungi sesebuah negara, Ibnu Battuta akan membuat catatan terperinci mengenai penduduk, pemerintah, ulamak serta kezaliman yang dilaksanakannya.Tetapi malangnya, pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu tidak mendapat penghargaan sewajarnya apabila manuskrip catatannya dirampas dan di sembunyikan kerajaan Perancis yang menjajah kebanyakan negeri di benua Afrika. Manuskrip catatan beliau dipercayai disimpan di Bibliotheque Nationale, Paris, menyebabkan bangsa Arab sendiri tidak dapat menghargai pencapaiannya sebagai seorang pelayar Islam yang agung.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.Gumbira.com HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Nasir Al-Din Al-Tusi – Ahli Sains

Nasir Al-Din Al-Tusi

Nama: Nasir al-Din al-Tusi
Gelaran:
Lahir: 16 Februari 1201 atau 11 Jamadil Awal 597 H
Wafat: 25 Jun 1274 atau 18 Zulhijah 672 H
Mazhab: Jaafari
Etnik: Parsi
Rantau: Parsi
Bidang: Teologi, Falsafah, Matematik, Astronomi, Perubatan
Idea utama: Trigonometri Sfera, Gandingan Tusi
Pengaruh: Ibnu Sina, Fakhruddin al-Razi
Diilhami: Qutib al-Din al-Shirazi

Nasir Al-Din Al-Tusi (12011274) adalah ahli sains Islam Syiah berkebangsaan Iran yang dikenali sebagai ahli falsafah, matematik, astronomi, teologi, serta pakar perubatan dan penulis, iaitu beliau adalah seorang pakar dalam pelbagai bidang.

Biografi

Dilahirkan di Tous, Khorasan, Iran, Nasir memulakan pendidikannya pada masa awal lagi. Di Tous, beliau mengaji al-Quran, Hadis, dan jurisprudens Syiah, serta belajar bahasa Arab, logik, falsafah, matematik, perubatan, dan astronomi. [1] Ketika masih muda, beliau berpindah ke Nishapur untuk belajar falsafah di bawah Farid al-Din Damad, dan matematik di bawah Muhammad Hasib. [2]

Apabila tentera Genghis Khan menyerang tanah airnya, Nasir melarikan diri untuk menyertai orang-orang Ismaili dan membuat sumbangannya yang terpenting dalam bidang sains pada masa itu, ketika berpindah-pindah dari satu kubu ke kubu yang lain. Akhirnya, beliau menyertai Hulagu Khan, anak Genghis Khan, selepas serangan kota kubu Alamut milik puak Hashshashin oleh angkatan tentera Mongol.

Hulagu Khan, pemerintah Mongol, membina sebuah balai cerap untuk Nasir di Maragheh, sebuah kota di barat laut Iran. Nasir dianggap sebagai ahli astronomi pertama daripada Pusat Pengajian Maragheh yang membuat sumbangan yang penting kepada bidang astronomi. Antara ahli-ahli Pusat Pengajian ini yang terkenal ialah Mu’ayyad al-Din al-’Urdi dan Qutb al-Din al-Shirazi.

Pencapaian

Nasir mencipta jadual-jadual pergerakan planet yang persis, seperti yang digambarkan dalam bukunya, Zij-i ilkhani (Jadual-jadual Ilkhani). Buku ini mengandungi nama-nama bintang, serta jadual astronomi untuk menghitung kedudukan planet. Sistem planetnya merupakan sistem yang paling maju pada zamannya dan digunakan secara meluas sehingga perkembangan model heliosentrik pada zaman Copernicus. Antara Ptolemy dan Copernicus, Nasir dianggap sebagai ahli astronomi yang paling unggul pada masanya.

Nasir merupakan orang pertama untuk mengolahkan trigonometri sebagai satu bidang matematik yang berasingan. Dalam bukunya, Karya mengenai Sisi Empat, beliau merupakan orang pertama untuk menyenaraikan enam kes yang berbeza bagi segi tiga sudut tegak dalam trigonometri sfera. Nasir mereka teknik geometri yang dipanggil Gandingan Tusi untuk model-model planetnya yang menjanakan gerakan linear daripada jumlah dua gerakan bulat. Beliau juga menghitung nilai sebanyak 51″ untuk liukan tahunan ekuinoks dan menyumbang kepada sebilangan pembinaan dan penggunaan alat astronomi, termasuk astrolab. Nasir memberikan penjelasan pertama tentang seluruh sistem trigonometri sfera dan satah yang masih wujud pada hari ini. Beliau juga banyak menulis tentang biologi dan merupakan salah satu perintis untuk sejenis evolusionisme dalam pemikiran saintifik. [1]

Sebuah kawah berdiameter 60 kilometer yang terletak di hemisfera selatan bulan dinamakan sempenanya sebagai “Nasireddin“.

Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Al-Baitar – Ahli Botani & Farmasi

Ibn Al-Baitar

Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi adalah salah satu ilmuwan terbesar Muslim Sepanyol dan merupakan ahli botani dan ahli farmasi terbesar Zaman Pertengahan.

Beliau dilahirkan di bandar Sepanyol Malaqa (Malaga) menjelang akhir abad ke-12 dan dikatakan meninggal dunia pada 1248 M. Dia belajar botani daripada Abu al-Abbas al-Nabati, seorang ahli botani dipelajari, dengan siapa ia mula mengumpul tanaman di dalam dan sekitar Sepanyol.
Pada 1219 ia meninggalkan Sepanyol pada ekspedisi mengumpul tanaman dan melakukan perjalanan di sepanjang pantai utara Afrika hingga Asia Kecil. Cara yang tepat perjalanannya (apakah lewat darat atau laut) tidak diketahui, tetapi ia melawat stesen utama termasuk Bugia, Qastantunia (Constantinople), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.

Selepas 1224 ia memasuki perkhidmatan al-Kamil, gabenor Mesir, dan diangkat menjadi ketua ahli tanaman obat. Pada 1227 al-Kamil menghulurkan dominasi ke Damsyik, dan Ibn al-Baitar menemani dia di sana yang memberinya kesempatan untuk mengumpul tumbuhan di Syria kajian tentang tanaman-Nya diperpanjang atas kawasan yang luas: termasuk Saudi dan Palestin, yang dia baik mengunjungi atau ditapis untuk mengumpul tanaman daripada stesen terletak di sana. Dia meninggal di Damsyik pada 1248.

Sumbangan utama Ibn Baitar , Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, adalah salah satu kompilasi botani terbesar berurusan dengan tanaman ubat dalam Bahasa Arab. Kitab tersebut menikmati status yang tinggi di kalangan ahli botani hingga abad ke-16 dan merupakan kerja sistematik yang merangkumi karya-karya sebelumnya, dengan kritik kerana, dan menambah sebahagian besar sumbangan yang sebenar.

Ensiklopedianya terdiri daripada 1,400 item yang berbeza, sebahagian besar tanaman obat dan sayuran, dari sekitar 200 tanaman yang tidak dikenali sebelumnya. Buku merujuk pada karya kebanyakan sekitar 150 penulis Arab, dan buku tersebut juga mengenai sekitar 20 awal saintis Greece. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diterbitkan tahun 1758.

Risalah monumental kedua Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada adalah ensiklopedia perubatan. Obat berdaftar sesuai dengan nilai therapeutical. Jadi, yang 20 bab yang berbeza berurusan dengan bantalan tanaman signifikansi untuk penyakit kepala, telinga, mata, dan lain-lain Pada masalah pembedahan beliau telah sering dikutip ahli bedah Muslim yang terkenal, Abul Qasim Zahrawi.

Selain bahasa Arab, Baitar telah memberikan nama Greek dan Latin daripada tanaman, sehingga memudahkan pemindahan pengetahuan. Sumbangan Ibn Baitar dicirikan dengan pengamatan, analisis dan klasifikasi dan telah diberikan pengaruh yang mendalam di Timur mahupun Barat botani dan perubatan. Meskipun Jami diterjemahkan / diterbitkan terlambat dalam Bahasa-bahasa barat seperti yang disebutkan di atas, namun banyak saintis sebelumnya telah mempelajari pelbagai bahagian daripada buku dan membuat beberapa rujukan untuk itu.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.3 quotes daily HERE

Thank you for visiting fadlyahmad.com

Cendekiawan Islam: Al-Khawarizmi – Ahli Matematik

Abu Abdullah Mohammad Ibn Musa al-Khawarizmi

Abu Abdullah Mohammad Ibn Musa al-Khawarizmi adalah Bapa Algebra. Tarikh lahir dan kematiannya yang tepat tidak diketahui tetapi beliau dikatakan hidup di antara tahun 790 sehingga 840 Masihi. Ada juga yang menyatakan beliau lahir pada tahun 780 Masihi dan meninggal dunia pada tahun 850 Masihi.

Lebih dikenali sebagai Al Khawarizmi di kalangan ahli sains dan merupakan seorang ahli sains Islam yang terulung dalam ilmu matematik. Beliau juga merupakan seorang ahli astronomi dan geografi yang terkenal pada zamannya.

Gelaran Al Khawarizmi diberi kepada beliau sempena tempat kelahirannya di Khawarizm yang terletak di selatan Laut Aral. Beliau lahir di sebuah tempat bernama Kath iaitu sebahagian daripada daerah Khawarizm.

Kath kini telah lenyap akibat ditenggelami pasir. Kehidupan kanak-kanaknya kurang diketahui tetapi ibu bapanya telah membawanya berhijrah ke Baghdad, Iraq ketika beliau masih kecil.

Khawarizmi merupakan salah seorang ahli matematik yang teragung dan jasanya akan dikenang sampai bila-bila oleh seluruh masyarakat dunia.

Beliau sebenarnya merupakan pengasas kepada beberapa cabang dan konsep asas matematik. Hasil kerjanya dalam algebra begitu cemerlang dan beliau tidak hanya mempunyai inisiatif terhadap subjek dalam pembentukan sistematik tetapi juga bertanggungjawab membangunkan penyelesaian analitikal dalam pengembangan garis lurus serta persamaan kuadratik.

Persamaan kuadratik ialah satu persamaan di mana kuasa kedua tanpa kuasa lebih tinggi digunakan bagi yang tidak diketahui (x2 + 2x – 8 = 0).

Kejayaan itu akhirnya menjadikannya pengasas Algebra. Nama Algebra diperoleh daripada bukunya yang terkenal iaitu Al-Jabrwa-al-Muqabilah.

Beliau turut menjelaskan dengan teliti kegunaan sifar – iaitu sistem angka yang dibangunkan oleh orang Arab.

Pada masa yang sama, beliau membangunkan sistem perpuluhan dan dengan itu, keseluruhan sistem nombor angka, algorithm atau algorizm memperoleh nama selepas dibangunkan oleh orang Arab.

Dalam usahanya memperkenalkan sistem angka India (kini dikenali angka Arab), beliau telah membangunkan beberapa prosedur kira-kira termasuk operasi dan pecahan.

Sistem angka itu kemudiannya diperkenalkan kali pertama oleh orang Arab kepada Barat yang mana hasil kerjanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropah.

Jasa beliau yang lain ialah membangunkan secara terperinci bidang trigonometri iaitu ilmu matematik mengenai sudut dan sempadan segitiga yang mengandungi fungsi sine.

Beliau juga menyempurnakan teori geometri yang mewakili muka keratan kon dan membangunkan kalkulus yang mana membantunya menguasai konsep perbezaan.

Beliau juga dilaporkan bekerjasama dalam pengukuran darjah di bawah perintah Mamun al-Rashid yang bertujuan mengukur isipadu dan lilitan bumi.

Pembangunan ilmu kaji bintang atau ilmu falak olehnya mempunyai makna yang cukup besar terhadap kemajuan dalam bidang sains astronomi – yang mana beliau turut menulis buku mengenainya.

Sumbangan Khawarizmi dalam ilmu geografi turut cemerlang. Beliau tidak hanya menyemak pandangan Patolemy mengenai geografi tetapi juga membetulkannya termasuk dalam melakar peta dunia.

Al Khawarizmi merupakan saintis pertama yang melakar peta dunia pada tahun 830 Masihi iaitu 10 tahun sebelum beliau meninggal dunia.

Hasil kerjanya yang lain turut meliputi kerja-kerja asal berkaitan dengan jam, alat yang menunjukkan waktu dengan bayangan matahari serta kaji bintang.

Hasil penemuannya dibukukan dan beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada awal kurun ke-12.

Sebenarnya, bukunya mengenai kira-kira, Kitab al-Jam’a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi telah hilang di benua Arab tetapi masih boleh diperoleh dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Bukunya mengenai Algebra iaitu Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada kurun ke-12 dan ia adalah terjemahan yang diperkenalkan dalam dunia sains baru kepada Barat.

Hasil kerjanya dalam ilmu falak turut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropah dan kemudian ke dalam bahasa Cina.

Buku geografinya, Kitab Surat-al-Ard bersama-sama peta lakarannya juga telah diterjemahkan. Selain itu, beliau turut menulis kalendar Yahudi, Istikhraj Tarikh al-Yahud.

Beliau juga menulis Kitab al-Tarikh dan buku mengenai alat yang menunjukkan waktu dengan bayangan matahari dikenali Kitab al-Rukhmat.

Malangnya kedua-dua buku itu telah hilang.Pengaruh Khawarizmi dalam perkembangan ilmu sains khususnya matematik, astronomi dan geografi kini menjadi lakaran sejarah.

Buku-bukunya turut menjadi buku teks di beberapa universiti sehingga kurun ke-16.

Dari Saintis Islam

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]

Cendekiawan Islam: Ibnu Sina – Ahli Perubatan

Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina

Cendekiawan Islam
Zaman Kegemilangan Islam
Nama: Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibni Sina
Gelaran: Bapa Sejarah Sains
Lahir: sekitar 980 M atau 370 H
Wafat: 1037 M atau 428 H
Mazhab: Ismaili
Etnik: Tajik
Rantau: Parsi
Bidang: Perubatan, Astronomi, Etika, Logik, Matematik, Metafizik, Falsafah, Fizik, Sains,teologi
Karya: Alqanun fi altibb, Kitab al-Shifa, Al Najat
Pengaruh: Omar Khayyám, Ibnu Rushd, Thomas Aquinas, Albertus Magnus
Diilhami: Aristotle, Al-Farabi

Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina atau dikenali sebagai Avicenna di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains dari Iran yang hidup antara tahun 980 – 1037 M.

Sejarah dan latar belakang

Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 Hijrah bersamaan dengan 980 M. Pengajian peringkat awalnya bermula di Bukhara dalam bidang bahasa dan sastera. Selain itu, beliau turut mempelajari ilmu-ilmu lain seperti geometri, logik, matematik, sains, fiqh, dan perubatan.

Walaupun Ibnu Sina menguasai pelbagai ilmu pengetahuan termasuk falsafah tetapi beliau lebih menonjol dalam bidang perubatan sama ada sebagai seorang doktor ataupun mahaguru ilmu tersebut.

Ibnu Sina mula menjadi terkenal selepas berjaya menyembuhkan penyakit Putera Nub Ibn Nas al-Samani yang gagal diubati oleh doktor yang lain. Kehebatan dan kepakaran dalam bidang perubatan tiada tolok bandingnya sehingga beliau diberikan gelaran al-Syeikh al-Rais (Mahaguru Pertama).

Sumbangan

Kemasyhurannya melangkaui wilayah dan negara Islam. Bukunya Al Qanun fi al-Tibb telah diterbitkan di Rom pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan asas diuniversiti-universiti Itali dan Perancis. Malahan sehingga abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan digunakan oleh para pelajar perubatan.

Ibnu Sina juga telah menghasilkan sebuah buku yang diberi judul (Remedies for The Heart) yang mengandungi sajak-sajak perubatan. Dalam buku itu, beliau telah menceritakan dan menghuraikan 760 jenis penyakit bersama dengan cara untuk mengubatinya. Hasil tulisan Ibnu Sina sebenarnya tidak terbatas kepada ilmu perubatan sahaja. Tetapi turut merangkumi bidang dan ilmu lain seperti metafizik, muzik, astronomi, philologi (ilmu bahasa), syair, prosa, dan agama.

Penguasaannya dalam pelbagai bidang ilmu itu telah menjadikannya seorang tokoh sarjana yang serba boleh. Beliau tidak sekadar menguasainya tetapi berjaya mencapai tahap kemuncak (zenith) iaitu puncak kecemerlangan tertinggi dalam bidang yang diceburinya.

Di samping menjadi puncak dalam bidang perubatan, Ibnu Sina juga menduduki kedudukan yang tinggi dalam bidang ilmu logik sehingga digelar guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Ibnu Sina telah menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang mengandungi hasil sastera kreatif.

Perkara yang lebih menakjubkan pada Ibnu Sina ialah beliau juga merupakan seorang ahli falsafah yang terkenal. Beliau pernah menulis sebuah buku berjudul al-Najah yang membicarakan persoalan falsafah. Pemikiran falsafah Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh aliran falsafah al-Farabi yang telah menghidupkan pemikiran Aristotle. Oleh sebab itu, pandangan perubatan Ibnu Sina turut dipengaruhi oleh asas dan teori perubatan Yunani khususnya Hippocrates.

Perubatan Yunani berasaskan teori empat unsur yang dinamakan humours iaitu darah, lendir (phlegm), hempedu kuning (yellow bile), dan hempedu hitam (black bile). Menurut teori ini, kesihatan seseorang mempunyai hubungan dengan campuran keempat-empat unsur tersebut. Keempat-empat unsur itu harus berada pada kadar yang seimbang dan apabila keseimbangan ini diganggu maka seseorang akan mendapat penyakit.

Setiap individu dikatakan mempunyai formula keseimbangan yang berlainan. Meskipun teori itu didapati tidak tepat tetapi telah meletakkan satu landasan kukuh kepada dunia perubatan untuk mengenal pasti punca penyakit yang menjangkiti manusia. Ibnu Sina telah menapis teori-teori kosmogoni Yunani ini dan mengislamkannya.

Ibnu Sina percaya bahawa setiap tubuh manusia terdiri daripada empat unsur iaitu tanah, air, api dan angin. Keempat-empat unsur ini memberikan sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta sentiasa bergantung kepada unsur lain yang terdapat dalam alam ini. Ibnu Sina percaya bahawa wujud ketahanan semula jadi dalam tubuh manusia untuk melawan penyakit. Jadi, selain keseimbangan unsur-unsur yang dinyatakan itu, manusia juga memerlukan ketahanan yang kuat dalam tubuh bagi mengekalkan kesihatan dan proses penyembuhan.

Pengaruh pemikiran Yunani bukan sahaja dapat dilihat dalam pandangan Ibnu Sina mengenai kesihatan dan perubatan, tetapi juga bidang falsafah. Ibnu Sina berpendapat bahawa matematik boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan seumpama itu pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menghuraikan mengenai sesuatu kejadian. Bagi Pythagoras, sesuatu barangan mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam al-Ghazali telah menyifatkan fahaman Ibnu Sina sebagai sesat dan lebih merosakkan daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.

Sebenarnya, Ibnu Sina tidak pernah menolak kekuasaan Tuhan. Dalam buku An-Najah, Ibnu Sina telah menyatakan bahawa pencipta yang dinamakan sebagai “Wajib al-Wujud” ialah satu. Dia tidak berbentuk dan tidak boleh dibahagikan dengan apa-apa cara sekalipun. Menurut Ibnu Sina, segala yang wujud (mumkin al-wujud) terbit daripada “Wajib al-Wujud” yang tidak ada permulaan.

Tetapi tidaklah wajib segala yang wujud itu datang daripada Wajib al-Wujud sebab Dia berkehendak bukan mengikut kehendak. Walau bagaimanapun, tidak menjadi halangan bagi Wajib al-Wujud untuk melimpahkan atau menerbitkan segala yang wujud sebab kesempurnaan dan ketinggian-Nya.

Pemikiran falsafah dan konsep ketuhanannya telah ditulis oleh Ibnu Sina dalam bab “Himah Ilahiyyah” dalam fasal “Tentang adanya susunan akal dan nufus langit dan jirim atasan.

Pemikiran Ibnu Sina ini telah rnencetuskan kontroversi dan telah disifatkan sebagai satu percubaan untuk membahaskan zat Allah. Al-Ghazali telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafat al’Falasifah (Tidak Ada Kesinambungan Dalam Pemikiran Ahli Falsafah) untuk membahaskan pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi.

Antara percanggahan yang diutarakan oleh al-Ghazali ialah penyangkalan terhadap kepercayaan dalam keabadian planet bumi, penyangkalan terhadap penafian Ibnu Sina dan al-Farabi mengenai pembangkitan jasad manusia dengan perasaan kebahagiaan dan kesengsaraan di syurga atau neraka.

Walau apa pun pandangan yang dikemukakan, sumbangan Ibnu Sina dalam perkembangan falsafah Islam tidak mungkin dapat dinafikan. Bahkan beliau boleh dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam. Sesungguhnya, Ibnu Sina tidak sahaja unggul dalam bidang perubatan tetapi kehebatan dalam bidang falsafah mengatasi gurunya sendiri iaitu Abu Al-Nasr Al-Farabi (al-Farabi).

Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

.s e l i t j o k e r

.PTK HERE
.3 quotes daily HERE

[auto-imported from fadlyahmad.wordpress.com]